Jadi Kaya dan Rendah Hati

Thursday, May 9, 2013

Memaknai Likulli Syaiin Maziyyatun

Likulli Syaiin Maziyyatun

Setiap pemimpin tidak perlu menjadi pemimpin yang sama baiknya dengan pemimpin sebelumnya. Layaknya pepatah arab yang berbunyi “likulli syai’in maziyyatun”, setiap sesuatu atau orang itu punya kelebihan sendiri.  Kelebihan setiap individu pasti berbeda satu sama lain, tidak ada yang identik, sehingga masing-masing individu mampu memunculkan dirinya sendiri dengan kelebihan yang dia punya. 

Kelebihan tidak lah mesti dari fisik, namun sudut pandang, visi dan misi adalah hal yg urgent dalam setiap kepemimpinan.  Sejarah membuktikan bahwa tidak semua pemimpin dianggap sukses bukan pada suatu hal yang sama. Dalam hal ini kita coba menelisik pada sejarah penulisan Al-Qur’an. Muhammad  bin Abdullah sebagai seorg Rasulullah, tentu lah sesosok pribadi tanpa tanding, kepada dia lah Alqur’an diturunkan. Seandainya Abu Bakar memandang bahwa pemimpin harus seperti Rasulullah Saw, tentu lah Abu Bakar tidak ingin dijadikan Khalifah, karena mana mungkin ada nabi sesudah Nabi. Namun jasa Abu Bakar selalu dikenang umat manakala ia memerintahkan kpd Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan naskah Al-Qur’an yang kala itu masih tercerai berai, belum “diadopsi” dalam satu kumpulan.

Khalifah Utsman bin Affan, seorang khalifah yang di mata orientalis adalah khalifah yang paling nepotism, selalu diingat karena jasanya sebagai pelopor penulisan Al-Quran dalam satu mushaf. Abdul Malik bin Marwan, salah satu khalifah pada masa daulah Umayyah yang dikenal korup dan sekuler, tidak pernah dilupakan jasanya dalam peletakan titik huruf Al-Qur’an sebagai pembeda antara satu huruf dengan huruf lainnya. Dan akhirnya, di mana pada masa sekarang Al-Qur’an menjadi kitab yang paling banyak dicetak, paling banyak dibaca, dan paling banyak dihafal, otentik dan utuh sampai ditangan kita. Semua itu tidak lepas dari jasa para pemimpin pada masa kekhalifahan dan kedaulahan Islam, tentulah karena masing-masing pemimpin punya suatu yang beda, dimana mereka bekerja dan berfikir bukan seperti pendahulu mereka, tapi bagaimana dengan “kebedaan” mereka, mereka menghasilkan sesuatu yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya.

Al-Qur’an itu layaknya sebuah Kristal, dimana ketika Kristal diterpa cahaya, maka ia akan memancarkan sinar yg beragam dalam setiap sudutnya, namun karena terbatasnya “penglihatan” manusia, mereka tidak mampu melihat setiap cahaya itu, bahkan diantara mereka ada yang tertutup “penglihatan”nya. 

Dan sekarang, penelittian, kreasi dan inovasi demi menemukan dan memancarkan cahaya Al-Qur’an itu terus berlanjut, dari  metode cara cepat membaca atau menghafal Al-Qur’an, mushaf tajwid, seni baca Al-Qur’an, kajian Al-Qur’an, dan banyak lagi pancaran cahaya Al-Qur’an yang masih digali para pemikir muslim, atau yang paling gencar sekarang adalah integrasi Sains dan Al-Qur’an. Pancaran-pancaran cahaya Al-Qur’an yang beragam ini lah yang mungkin bisa menjadi suatu inspirasi dan motivasi dari para pemimpin dalam rangka mempertahankan dan membumikan Al-Qur’an, yang bukan hanya membumikan, namun “memanusiakannya” dalam manusia itu sendiri.

Firman Allah Swt “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

“Al-Quwwatu ma’al Jama’ah”, kekuatan itu ada dalam kebersamaan.

Meminjam slogan Obama, “Yes, We Can!”

Semoga bermanfaat, sehat sukses selalu...


Software Akuntansi Customize

Popular Posts

Copyright © Blog Dykapede | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates