Jadi Kaya dan Rendah Hati

Saturday, April 26, 2014

Mengapa Berdusta

Kadang, ada kebohongan yang diungkapkan pasangan untuk kebaikan hubungan. Tapi, ada juga yang digunakan untuk menutupi kesalahannya. Bagaimana mengenali kebohongan dan bagaimana pula menyikapinya?


Mengapa Berdusta
Ilustrasi : go-motivasi.blogspot.com

Tak seorang pun senang dibohongi, apalagi oleh orang terdekat. Yaitu pasangannya sendiri. Sayang, studi Tim Cole dari DePaul University menemukan 92% orang berbohong atau mampu mengingat peristiwa dimana ia pernah berbohong pada pasangannya. Banyak alasan mengapa orang berbohong pada pasangannya. Syukurnya, sebagian besar kebohongan tersebut adalah bohong putih (white lies), yakni bohong yang dilakukan untuk menjaga hubungan dan kesopanan. Jika pasangan Anda bertanya apa masakannya enak setelah bersusah payah memasak atau baju barunya bagus, rasanya sulit menjawab masakannya tidak enak dan model baju pilihannya norak bukan?

Namun terlalu jujur kadang tidak bagus dan dapat merusak hubungan. Jika bangun di pagi hari, lalu pasangan Anda berkata jujur betapa mengerikannya muka Anda dengan rambut berantakan dan muka putih bermasker, sulit untuk tidak merasa ada yang salah dengan diri Anda dan bisa jadi Anda tersinggung dengan kejujurannya.

Mengingat lebih dari 90% orang berbohong, jangan pernah berupaya mencari sikap jujur. Tapi, akan lebih baik menghindar dari kebohongan. Percayalah, jika Anda mengharapkan semua orang jujur, Anda tak akan sanggup menghadapinya dan justru makin mudah dibohongi! Mengapa? Pertama, sikap jujur dapat dipalsukan dengan mudah. Kedua, saat Anda menuntut kejujuran, tanpa sadar Anda sebenarnya memberikan informasi pada pasangan apa saja yang membuat Anda dengan mudah diyakinkan bahwa pasangan Anda berlaku jujur. Anda merasa nyaman melihat pasangan melakukan apa yang Anda minta dan tak menyadari dirinya sedang bermain dibelakang punggung Anda. Inilah sebagian besar realitas yang saya temui di praktik konsultasi, seseorang tak menyangka pasangan idealnya selingkuh bertahun-tahun. Jadi, nasihat saya, berhentilah mencari sikap jujur. Saya beritahu cara yang lebih efektif : buka mata dan telinga, jadilah pengamat yang cerdas!

Mendeteksi Ketidakjujuran

Banyak cara mendeteksi ketidakjujuran, namun ada empat yang paling mudah diamati. Berikut penjelasannya :

1. Ketulusan
Cara paling mudah menunjukkan ketulusan adalah terseyum. Kebanyakan kita berpikir jika seseorang tersenyum berarti orang tersebut tulus. Salah! Itu sebabnya banyak orang tertipu oleh senyuman. Senyum terbagi dua : senyum sosial basa basi dan senyum tulus. Senyum sosial tidak mencapai mata, hanya berhenti di hidung. Sementara senyum tulus yang lahir dari hati merambat melewati hidung, pipi, mata dan memunculkan garis tawa atau keriput di samping mata.

Emosi juga bisa tulus dan tidak tulus. Orang yang tidak tulus tidak tahu bagaimana cara merespons emosi dan menjauh dari masalah tersebut secepat mungkin. Jika Anda mengeluh atasan memarahi Anda, pasangan yang tidak tulus akan berkata, "Aku turut prihati. Yuk kita keluar makan biar kamu nggak sedih lagi." Pasangan tak tulus menolak terlibat jauh pada masalah yang Anda hadapi dan memilih menjauhkan Anda dari masalah. Sebaliknya, pasangan yang tulus dengan nyaman memperbincangkan masalah yang Anda hadapi. Dia akan menghibur, berbagi strategi, dan cerita bagaimana menghadapi masalah.

2.  Kontak Mata
Tanda terbesar ketulusan adalah konta mata. Sayang ada anggapan keliru yaitu jika pembohong tak akan berani melakukan kontak mata. Akibatnya para penipu berupaya menatap mata Anda untuk meyakinkan mereka tidak menipu. Padahal kontak maya yang tulus terlihat alami, tidak dibuat-buat atau diatur. Secara alami, manusia memandang mata lawan bicaranya sekitar 7 detik, lalu menatap ke arah lain selama 3 detik sebelum kembali kontak mata. Namun pembohong tak tahu kapan waktu alami menatap dan tidak menatap sehingga cara menatapnya terlihat janggal dan kaku.

3. Konsistensi Verbal dan Nonverbal
Jika Anda menyebut kanan tapi tangan menunjukkan kiri, berarti ada sesuatu yang disembunyikan. Jika pasangan menyebut dirinya baik-baik, sementara bahunya turun dan wajahnya merah padam, Anda tahu kenyataannya tidak demikian.

4. Jawaban Langsung Atas Pertanyaan Langsung
Kuncinya : orang jujur bereaksi dengan jujur dan sederhana. Sabaliknya, orang tidak jujur akan berlaku defensif dan memberi penjelasan panjang lebar. Bukan berarti orang yang banyak bicara itu bohong. Ada orang yang memang senang bicara tapi mereka langsung memberi jawaban di kalimat pertama jawaban. Jika Anda bertanya pada pasangan apa ia pergi berdua bersama sekretarisnya lalu ia menjawab, "iya meeting sampai sore,....", dan jika ia menjawab," Mengapa kau tak pernah mempercayaiku", atau "Dia orang baik, kenapa sih ditanyakan?" Ehm, Anda tahu mana kalimat yang membunyikan kejujuran mana yang tidak?

Menghadapi Ketidakjujuran

Saat menghadapi kebohongan, analisis dulu sejauh mana dampak kebohongan. Dampak kebohongan ada yang signifikan merusak dan ada yang tidak signifikan merusak, yaitu kebohongan yang tidak diniatkan melalui kebohongan.
Bila dampaknya fatal dan pasangan seperti tak peduli, gunakan keahlian detektif baru Anda untuk mengumpulkan info lengkap. Ingat, tetap tenang dan tegar karena kemarahan dan emosi yang Anda tunjukkan dapat menyebabkan pasangan resisten sehingga mempersulit upaya pengumpulan bukti dan informasi yang dibutuhkan. Jika terasa berat, jangan hadapi sendiri, minta dukungan profesional atau orang yang Anda percaya.
Mengapa Berdusta


Sadarilah selingkuh terjadi karena masalah berurat berakar yang tak terselesaikan jauh sebelum perselingkuhan terjadi. Pertengkaran semalam tak membuat seseorang berselingkuh, selalu ada jalan mengembalikan keutuhan.

Bagaimana jika pasangan menolak mengakui meski ditunjukkan sederet bukti foto, surat, bahkan video? Bangun, hadapi kenyataan ini! Pasangan yang menolak mengakui kebohongannya menunjukkan kelemahan moral, egoisme, dan penolakan realitas. 
Kadang rasa takut kehilangan pasangan menyebabkan seseorang tak menyadari rasa sakit dan pelecehan yang dialaminya. Tolong tanyakan pada diri sendiri, maukah Anda hidup bersama pasangan dengan sikap seperti ini?

Sumber Informasi :

Nunki Suwardi
Pendiri Studi Psikologi Komunikasi Bawah Sadar
Studi integratif bahasa tubuh, suara, tuling tangan, persepsi, intuisi, fisiognomi.
Konsultasi dapat menghubungi : studipkbs@gmail.com

Software Akuntansi Customize

Popular Posts

Copyright © Blog Dykapede | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates